‘Hikmah’

Menyikapi Perubahan

Wednesday, June 13, 2007 11:37

Satu hal yang tidak bisa kita elakkan dalam kehidupan adalah perubahan. Tuhan dalam firman-Nya beberapa kali mengungkapkan betapa dahsyat dan pentingnya perubahan itu. Karena itu pula, ayat-ayat Makkiyah (ayat-ayat yang turun di Makkah) dimulai dengan simbol-simbol perubahan. Misal, wal ashri (demi masa), wad dhuhaa (demi waktu dhuha), wassyamsi wa dhuhaahaa, dan sebagainya. Ini adalah simbol-simbol perubahan yang ditampilkan Allah kepada manusia untuk dimaknai dan dipikirkan. Lantaran besarnya dampak perubahan bagi kehidupan seseorang, Nabi Muhammad SAW pernah memberikan pesan kepada para sahabatnya untuk betul-betul dan sungguh-sungguh dalam menghadapi perubahan itu sendiri. Sebab, jika tidak, manusia yang paginya masih Muslim, bisa jadi siangnya ia termasuk orang-orang fasik. Bisa jadi di waktu paginya zikir khusyuk di mushala, tapi siangnya ia jadi pezina, pencuri, atau mabuk dunia. Kalau demikian apa yang bisa dan mampu membuat kita untuk selalu di jalan Allah (Islam)? Pertama, ikhlas. Sikap ikhlas ini pula yang membuat iblis tidak mampu menggoda seseorang. Tidak ada yang tahu apakah kita ikhlas atau tidak, kecuali diri kita dan Allah saja.

Akhlak Rasulullah SAW

Wednesday, June 13, 2007 11:37

Sudah menjadi tradisi, setiap tahun, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal, mayoritas umat Islam Indonesia memperingati Maulid Nabi (hari kelahiran Nabi Muhammad SAW). Walau tidak ada nash untuk memperingati hari kelahiran beliau, namun memahami sejarah perjuangan dan dakwah beliau selama 23 tahun menyebarkan agama Islam penting juga. Karena, Rasulullah SAW adalah suri teladan kita. Baginda dijuluki sebagai The Living Quran (Alquran hidup). Dan ini diperkuat oleh pernyataan Aisyah RA, ''Akhlak beliau (Rasulullah) adalah Alquran.'' (HR Abu Dawud dan Muslim). Sejak kecil Nabi Muhammad SAW hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Rumah beliau di samping sebelah timur Masjid Nabawi, sangat kecil. Atapnya rendah terbuat dari rumbia kurma yang bisa disentuh tangan karena pendeknya. Di dalam rumah beliau nyaris tak ada perabot. Yang tampak hanya tempat minum beliau yang terbuat dari kayu keras yang dipatri dengan besi dan sebuah baju besi yang biasa dipakai beliau ketika berperang. Baju besi inipun konon menjelang Nabi SAW wafat digadaikan kepada seorang Yahudi. Tempat tidur beliau selembar tikar dari anyaman pelepah kurma.