Xinjiang — Jumlah kematian akibat kekerasan di Urumqi, ibu kota wilayah Xinjiang, China, meningkat menjadi 184. “Di antara mereka yang tewas, 137 adalah orang Han, yang mencakup 111 pria dan 26 wanita. Sebanyak 46 korban adalah warga Uighur, yang terdiri dari 45 pria dan satu wanita. Seorang pria Hui (etnis Muslim lain yang ada di China) juga tewas,” demikian laporan yang dikeluarkan oleh kantor berita resmi Xinhua dengan mengutip keterangan pemerintah daerah setempat.
China sebelumnya menyatakan jumlah korban tewas 156 dan lebih dari 1.000 lain cedera ketika warga Muslim Uighur melakukan protes yang berbuntut kekacauan pada Minggu (5/7) di wilayah sebelah barat yang bergolak itu. Pada Jumat, ribuan orang berusaha meninggalkan Urumqi setelah kerusuhan etnik mematikan itu dan banyak masjid ditutup sehingga umat Islam tidak bisa melakukan shalat Jumat.
Pelarangan sholat Jumat di masjid dari pemerintah komunis China dilakukan dengan alasan ‘demi keamanan umum’.”Pemerintah mengatakan tidak akan ada shalat Jumat,” kata seorang pria Uighur bernama Tursun di luar masjid Hantagri, salah satu masjid tertua di kota itu, sementara 100 polisi yang membawa senapan mesin dan pentungan tampak bersiaga.
Kekerasan yang dialami orang Uighur itu telah menimbulkan gelombang pawai protes Jumat di berbagai kota dunia, seperti Ankara, Berlin, Canbera, dan Istanbul. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan adalah yang paling keras melontarkan kecaman dan menyebut apa yang terjadi di Xinjiang sebagai “semacam pembantaian”.
Ahmet Davutoglu, Menlu Turki juga mendesak pemerintah China mengadili para pelaku kerusuhan dengan cara yang transparan. “Kami memantau peristiwa ini dengan perasaan prihatin, khawatir dan sedih,” kata Davutoglu.
Orang-orang Uighur di pengasingan mengklaim bahwa pasukan keamanan China bereaksi terlalu berlebihan atas protes damai dan menggunakan kekuasan mematikan. Delapan juta orang Uighur yang memiliki lebih banyak hubungan dengan tetangga mereka di Asia tengah ketimbang dengan orang China Han yang berjumlah kurang dari separuh dari penduduk Xinjiang.
Sumber : KOMPAS.COM